Selamat Datang

Selamat berkunjung ke blog matakuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman. Blog ini memuat materi bahan kuliah dan berbagai sumberdaya yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran. Melalui blog ini diharapkan mahasiswa dapat belajar secara lebih interaktif dengan dosen dan dengan sesama mahasiswa dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan. Seiring dengan itu, melalui blog ini mahasiswa sekaligus diharapkan untuk belajar memanfaatkan teknologi informasi.
Jangan lupa memberikan komentar dan bertanya untuk memperoleh nilai SOFTSKILL

mulai dari tulisan mengenai pengelolaan program

Klik untuk MENGERJAKAN TUGAS. Tengat Tugas 7 ditunda menjadi Selasa 6 Mei 2014. Periksa dan kerjakan Tugas 9, tenggat 6 Juni 2014.

Kuliah 2 Mei 2014 diselenggarakan online. KLIK UNTUK MEMBERIKAN KOMENTAR DAN BERTANYA

Penandatanganan Daftar Hadir akan dilakukan pada 9 Mei 2014 HANYA bagi yang telah memberikan komentar atau bertanya

UJIAN AKAN DISELENGGARAKAN ONLINE

SOAL UJIAN DAPAT DIUNDUH PADA JUMAT 13 JUNI 2014 MULAI PUKUL 10.00 WITA DI SINI

Pemberitahuan Penting

Untuk memperoleh nilai soft-skill yang bobotnya 25% dari Nilai Akhir Semester, mahasiswa peserta kuliah Kebijakan Perlindungan Tanaman diminta untuk menyampaikan komentar terhadap tulisan-tulisan mulai dari tulisan mengenai daur pengelolaan program perlindungan tanaman dan tulisan-tulisan selanjutnya. Penilaian akan didasarkan pada jumlah tulisan yang diberikan komentar (kerajinan), bobot komentar (penguasaan masalah), cara penulisan komentar (keterampilan), dan kesdiaan mengomentari komentar mahasiswa lain (kepedulian). Mahasiswa yang tidak memberikan komentar tidak akan diberikan nilai softskill (nilai 0). Harap pemberitahuan ini diperhatikan dan dilaksanakan.

Mahasiswa juga harus mengerjakan tugas 7, tugas 8, dan tugas 9 untuk dikumpulkan secara online sebagaimana yang telah disampaikan pada halaman Tugas. Tugas yang dikumpulkan terlambat dari tanggal tengat TIDAK AKAN DIPERIKSA.

Silahkan kerjakan Tugas 9, tenggat 6 Juni 2014. Tugas yang dikumpulkan terlambat dari tanggal tengat TIDAK AKAN DIPERIKSA.

UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP 2013/2014 DAPAT DIUNDUH DARI SINI MULAI PADA 13 JUNI 2014 PUKUL 10.00 WITA. SILAHKAN KLIK TAUTAN SESUDAH AKTIF. UNGGAH FILE DALAM FORMAT PDF DENGAN MENGKLIK HALAMAN SMT GENAP 2013/2014 DAN KEMUDIAN MASUKKAN FILE KE DALAM KOTAK MEDIAFIRE FILEDROP PADA BAGIAN BAWAH HALAMAN.

Daftar file jawaban ujian yang masuk dapat diunduh dalam format JPG atau format PDF dan nilai akhir semester genap 2013/2014 dapat diunduh di SINI. Silahkan unduh dan cetak kedua file untuk mengajukan keberatan nilai kepada dosen koordinator matakuliah.

Merancang Program Perlindungan Tanaman dengan Pendekatan Kerangka Kerja Logis

Print Friendly and PDF
Ssebagaimana telah diuraikan pada tulisan sebelumnya, untuk beralih dari pendekatan PHT ke pendekatan ketahanan hayati, pengelolaan perlindungan tanaman perlu dilakukan dengan paradigma transformasional. Satu tahap penting dalam daur pengelolaan program dengan paradigma transformasional tersebut adalah tahap perancangan dan perbaikan rancangan (program design/redesign). Perancangan dan perbaikan rancangan program dengan paradigma transformasional dilakukan dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis (logical framework approach atau logical framework analysis, disingkat LFA). Tulisan ini menguraikan mengenai penggunaan pendekatan kerangka kerja logis, sedangkan penerapan kerangka kerja logis ke dalam dokumen rancangan program yang disebut matriks kerangka kerja logis (logical framework matrix, disingkat LFM) akan dibahas pada tulisan berikutnya.

Sebelum melanjutkan, sebaiknya perlu dipahami apa yang dimaksud dengan pendekatan kerangka kerja logis. Pendekatan kerangka kerja logis lazim digunakan di kalangan LSM Internasional seperti antara lain AusAID, CIDA, DFID, WWF, dan World Vision dan LSM lokal penerima hibah dari LSM internasional tersebut. Menurut WWF (World Wildlife Fund for Nature), LFA berbeda dengan LFM karena LMA merupakan proses analitik untuk merancang struktur dan mensistematisasi proses analisis terhadap suatu prakarsa program (atau proyek), sedangkan LFM merupakan hasil dari proses tersebut. Proses LFA terdiri atas tahap-tahap analisis pemangku kepentingan (stakeholder analysis), analisis permasalahan (problem analysis), penetapan tujuan (objective setting), dan pemilihan strategi (strategy selection) yang hasilnya dituangkan ke dalam sebuah tabel besar yang lazim disebut matrix, yaitu matriks kerangka kerja logis (LFM).

Pendekatan kerangka kerja logis perlu digunakan dalam merancang program perlindungan tanaman untuk menjawab pertanyaan, "Mengapa program perlindungan tanaman tertentu perlu dilaksanakan, bukan program perlindungan tanaman lainnya?" Karena dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis perancangan program dimulai dari analisis pemangku kepentingan maka pendekatan kerja logis dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan, "Karena program itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat". Dengan kata lain, program tersbut dilaksanakan karena itu yang menjadi prioritas masyarakat. Dengan demikian maka kemungkinan program akan memperoleh dukungan masyarakat menjadi lebih besar. Selain itu, penggunaan pendekatan kerangka kerja logis memungkinkan dilakukan analisis dan organisasi terhadap informasi yang tersedia secara sistematik sehingga dapat berfungsi sebagai alat bantu berpikir.

Lalu apa yang dimaksud dengan analisis pemangku kepentingan dan bagaimana melakukannya? Pemangku kepentingan (stakeholders) itu sebenarnya siapa? Pemangku kepentingan merupakan perorangan atau kelompok yang dapat mempengaruhi maupun terkena dampak dari pelaksanaan program, baik secara positif maupun negatif (mendukung, menerima dampak positif atau menentang, menerima dampak negatif). Untuk program PHT terhadap Chromolaena odorata, pemangku kepentingan dapat terdiri atas dinas pertanian dan perkebunan, dinas peternakan, badan lingkungan hidup, aparat dari dinas-dinas terkait tersebut, perusahaan penyalur dan pengedar herbisida dan pengusahanya, pemerintahan desa/kelurahan dan aparatnya, kelompok tani dan kelompok peternak dan anggotanya, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat di wilayah pelaksanaan program. Analisis pemangku kepentingan dilakukan dengan menggunakan proses yang disebut diskusi kelompok focus (focus group discussion, lazim dingkat menjadi FGD) untuk memperoleh informasi dasar mengenai setiap pemangku kepentingan berikut kepentingan mereka masing-masing serta dampak yang akan mereka terima.

Langkah berikutnya dalam proses kerangka kerja logis adalah identifikasi masalah untuk menentukan masalah prioritas yang akan ditangani. Identifikasi masalah dapat dilakukan bersamaan atau pada waktu yang berbeda dengan identifikasi pemangku kepentingan dengan menggunakan proses yang sama, yaitu FGD. Untuk menentukan masalah prioritas, peserta FGD diminta untuk menyampaikan masalah yang merupakan masalah paling mendesak bagi mereka masing-masing. Misalnya, peserta diminta untuk mengemukakan masalah mendesak yang dihadapi dalam melakukan perladangan dan memelihara ternak sapi dengan cara melepas pada padang penggembalaan. Masalah yang dikemukakan setiap peserta akan berbeda-beda bergantung pada kepentingan masing-masing, tetapi setiap masalah akan saling berkaitan satu sama lain dalam hubungan pengaruh dan dampak, yaitu satu masalah mempengaruhi timbulnya masalah lainnya dan dalam hal ini, masalah lainnya tersebut merupakan dampak. Untuk melakukan identifikasi masalah digunakan teknik yang disebut analisis pohon masalah (problem tree analysis) dengan cara meminta setiap peserta menuliskan masalahnya dan kemudian mengaitkan masalahnya dengan masalh lainnya.

Suatu masalah lazim dikemukakan sebagai pernyataan negatif, yaitu sesuatu yang kurang memenuhi harapan atau merugikan. Contoh masalah adalah antara lain musim kemarau semakin panjang, tanah semakin kurang subur, tumbuhan sufmuti (Chromolaena odorata) semakin banyak, rumput semakin berkurang, ternak semakin sering tanaman masuk dan merusak tanaman di ladang, tikus semakin banyak bersembungi di bawah naungan sufmuti, tanaman jagung kurang subur akibat dinaungi sufmuti, dan produksi tanaman jagung terus berkurang. Masalah-masalah tersebut dapat dikaitkan dalam hubungan sebab-akibat sebagaimana tampak pada bagan alir. Masalah yang berada pada pangkal tanda panah merupakan masalah penyebab, sedangkan yang berada pada ujung tanda panah merupakan masalah dampak. Pada bagan alir tampak bahwa ada masalah yang menjadi penyebab banyak masalah lain, ada yang hanya menjadi penyebab beberapa masalah lain. Masalah yang menjadi penyebab banyak masalah lain merupakan masalah yang memerlukan prioritas penangan. Bagan alir yang menghubungkan satu masalah dengan masalah lainnya dalam hubungan sebab-akibat tersebut disebut pohon masalah (problem tree)

Pohon masalah yang dibuat dengan menggunakan program aplikasi bagan alir dalam jaringan (online) Lucid Chart. Silahkan klik pohon masalah yang dibuat dengan menggunakan program aplikasi bagan alir dan pemetaan pikiran EDraw MindMap untuk membandingkan. 

Untuk menentukan penanganan masalah, perlu dilakukan analisis tujuan dengan cara membuat pernyataan positif terhadap masalah yang ditangani. Misalnya untuk menangani masalah-masalah dalam bagan alir di atas dibuat pernyataan positif sebagai tujuan, yaitu  mengatasi musim kemarau yang semakin panjang, memperbaiki kesuburan tanah yang semakin kurang subur, mengurangi tumbuhan sufmuti (Chromolaena odorata) yang semakin banyak, meningkatkan pertumbuhan rumput yang semakin berkurang, mencegah ternak semakin sering tanaman masuk dan merusak tanaman di ladang, membunuh tikus yang semakin banyak bersembungi di bawah naungan sufmuti, membuat tanaman jagung yang kurang subur akibat dinaungi sufmuti menjadi lebih subur, dan meningkatkan produksi tanaman jagung yang terus berkurang. Pernyataan positif yang menggambarkan tujuan tersebut dibuat dengan cara meminta peserta mengubah pernyataan masalah menjadi pernyataan tujuan tanpa mengubah bagan alir. Dengan begitu, pohon masalah berubah menjadi pohon tujuan (objective tree).

Tahap selanjutnya dalam pendekatan kerangka kerja logis adalah penetapan tujuan dengan merujuk pada pohon tujuan yang telah dihasilkan melalui analisis pohon tujuan. Pada dasarnya, tahap ini dilaksanakan dengan menggabungkan beberapa tujuan serupa dalam pohon tujuan menjadi satu tujuan dan kemudian menentukan kegiatan yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya tujuan-tujuan  mengurangi tumbuhan sufmuti (Chromolaena odorata) yang semakin banyak, meningkatkan pertumbuhan rumput yang semakin berkurang, membunuh tikus yang semakin banyak bersembungi di bawah naungan sufmuti, membuat tanaman jagung yang kurang subur akibat dinaungi sufmuti menjadi lebih subur dapat digabungkan menjadi satu tujuan untuk mengendalikan sufmuti dengan menggunakan cara pengendalian hayati. Tujuan-tujuan tersebut juga dapat digabungkan dengan tujuan mengatasi musim kemarau yang semakin panjang, memperbaiki kesuburan tanah yang semakin kurang subur menjadi satu tujuan untuk mengendalikan sufmuti dengan menggunakan cara budidaya. Untuk setiap hasil penggabungan tujuan kemudian ditetapkan jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan untuk kemudian dikelola sebagai satu proyek, yaitu proyek pengendalian hayati Chromolaena odorata dan proyek pengendalian Chromolaena odorata secara budidaya. Kedua proyek kemudian digabungkan menjadi program PHT pengendalian Chromolaena odorata pada kawasan perladangan dan padang rumput.

Tahap terakhir dalam pendekatan kerangka kerja logis adalah perumusan strategi yang hasilnya akan dirumuskan nanti dalam matriks kerangka kerja logis (LFM). Perumusan strategi dilakukan dengan menetapkan tujuan ke dalam peringkat tujuan tertentu (dari tujuan khusus yang mudah diukur ke tujuan lebih umum yang lebih sulit diukur). Kalangan LSM internasional menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk peringkat tujuan yang ditentukan melalui perumusan strategi ini. Misalnya, AusAID (2005) menggunakan terminologi sasaran/dampak (goals/impacts), tujuan/hasil (purposes/outcomes), tujuan komponen/hasil antara (component objectives/intermediate results), dan keluaran (outputs). WVI (2007) menggunakan istilah sasaran (goals), hasil (outcomes), dan keluaran (outputs). WWF menggunakan terminologi visi (vision), sasaran (goals), tujuan (objectives), dan hasil (results). Pada kegiatan belajar ini akan digunakan terminologi keluaran, hasil, dan sasaran dengan definisi sebagai berikut:
  • Keluaran: produk langsung dan nyata yang dicapai secara langsung melalui pelaksanaan satu kegiatan tertentu dari suatu proyek;
  • Hasil: produk lanjutan yang dicapai secara langsung maupun tidak langsung, sebagai konsekuensi dari tercapainya sejumlah keluaran sebagai hasil dari pelaksanaan beberapa kegiatan dalam satu proyek;
  • Sasaran: produk yang dicapai secara langsung maupun tidak langsung dari tercapainya hasil dari sejumlah proyek sehingga berkontribusi terhadap tujuan sektoral secara jangka panjang. Sasaran bersifat kontributif, artinya ikut menyumbang, sehingga sasaran yang berhasil dicapai bukan seluruhnya merupakan produk satu program.
Merujuk pada contoh yang telah diberikan di atas, untuk proyek dengan tujuan untuk mengendalikan Chromolaena odorata secara hayati perlu ditentukan sejumlah kegiatan, misalnya penyiapan sarana dan prasarana pendukung pengendalian hayati, importasi (pemasukan) agen hayati dari luar negeri, pembiakan masal (mass-rearing agen hayati), dan pelepasan agen hayati bersama dengan para pemangku kepentingan. Untuk proyek dengan tujuan untuk mengendalikan Chromolaena odorata secara budidaya ditetapkan kegiatan-kegiatan, misalnya, penyiapan sarana dan prsarana pendukung pengendalian secara budidaya, pemilihan jenis tanaman, dan penyiapan lahan dan pemeliharaan tanaman. Selanjutnya ditetapkan keluaran untuk setiap kegiatan, misalnya untuk kegiatan penyiapan sarana dan prasarana pendukung pengendalian hayati ditetapkan tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan, untuk kegiatan importasi (pemasukan) agen hayati dari luar negeri ditentukan keluaran dimasukannya jenis agen hayati tertentu, untuk kegiatan pembiakan masal (mass-rearing agen hayati) ditentukan keluaran tersedianya agen hayati dalam jumlah tertantu, dan untuk kegiatan pelepasan agen hayati bersama dengan para pemangku kepentingan ditetapkan keluaran dilepaskannya agen hayati dengan jumlah teretntu bersama dengan jumlah tertentu pemangku kepentingan. Kemudian, tujuan kedua proyek digabungkan menjadi satu sasaran, misalnya untuk meningkatkan produksi jagung dan pendapatan petani peladang dan peternak.

Perancangan program dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis tentu saja tidak sesederhana yang diuraikan dalam tulisan ini. Pertama-tama, para pemangku kepentingan mungkin mempunyai kepentingan yang saling bertentangan. Kedua, permasalahan yang teridentifikasi bisa sangat banyak sehingga tidak mudah menentukan hubungan sebab-akibatnya satu dengan yang lain. Ketiga, satu proyek mungkin mempunyai kegiatan yang saling tumpang tindih dengan proyek lainnya. Keempat, pelaksanaan FGD memerlukan pemandu yang bukan hanya menguasai bidang permasalahan, tetapi juga harus mengusasi teknik-teknik FGD yang tepat. Kelima, pendokumentasian hasil FGD memerlukan dukungan perangkat keras dan perangkat lunak yang perlu dikuasai penggunaannya. Misalnya, untuk merekam proses pelaksanaan dan hasil FGD diperlukan perangkat keras perekam suara (voice recorder), perekam foto (kamera), dan perekam video (video recorder), serta perangkat lunak program aplikasi untuk melakukan transkripsi rekaman suara, foto, dan video dan untuk mengubah bagan alir yang dibuat pada lembaran kertas menjadi bagan alir siap cetak. Dalam hal perangkat lunak, perlu digunakan program aplikasi khusus untuk membuat bagan alir (flowchart) atau untuk membuat peta pikiran (mind mapping) (tersedia dalam jaringan misalnya Lucid Chart dan mindmeister maupun untuk dipasang pada komputer misalnya EDraw MindMap dan XMind).


79 komentar:

  1. Dalam PHT memang perlu adanya pemangku kepentingan (stakeholders) yang mengelola atau terlebih khususnya dalam mengendalikan chromolena odorata secara hayati dan perlu ditentukan sejumlah kegiatan, mulai dari persiapan sarana dan prasarana pendukung pengendalian hayati, pemasukan agen hayati dari luar negeri, pembiakan masal, dan pelepasan agen hayati yang melibatkan para pemangku kepentingan.
    Pendekatan PHT ke pendekatan hayati, pengelolaan perlindungan tanaman perlu dilakukan dengan paradigma transformasional. Yang menjadi pertanyaan saya adalah pengelolaan perlindungan tanaman perlu dilakukan dengan paradigma transformasional itu yang seperti apa????????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan hanya perancangan perlindungan tanaman perlu dilakukan dengan pendekatan transformasional, melainkan seharusnya perancangan program semua sektor pembangunan. Hal ini perlu dilakukan karena pembangunan seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan lingkungannya, membangun harga diri bangsa, bukan hanya membangun teknologi tinggi tetapi pada akhirnya menyebabkan kehancuran lingkungan hidup dan membuat manusia menjadi sekedar sebagai 'obyek' pembangunan yang rela menjual harga dirinya untuk kepentingan memperoleh kekuasaan dan materi dengan cara yang tidak layak.

      Hapus
    2. Silahkan kunjungi http://arali2008.wordpress.com/2010/05/19/pentingnya-logical-framework-%E2%80%93kerangka-kerja-logis-%E2%80%93-dalam-penyelenggaraan-program/ untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut atas pertantanyaan yang diajukan.

      Hapus
  2. dari materi tentang program perlindungan tanaman dengan pendekatan kerja kerangka logis,menurut saya sangat bagus dilakukan,,terlebih khusus di kalangan NTT,,karena dilihat dari fakta atau kenyataan yang ada banyak tanah atau lahan yang di ahli fungsikan sehingga banyak tanah atau lahan yang tidak subur lagi atau tidak bisa digunakan lagi,,

    BalasHapus
  3. Dari materi yang saya baca dan yang saya pahami bahwa Dalam perlindungan tanaman perlu menggunakan pendekatan kerangka kerja logis,untuk mengidentidentifikasi masalah dan untuk menentukan masalah prioritas yang akan ditangani,khususnya di masyarakat NTT karena pemerintah dan masyarakat NTT kurang menangani masalah OPT di Lapangan dan pemerintah kurang mengambil kebijakan dalam melindungi tanaman dalam melakukan karintina tumbuhan.

    BalasHapus
  4. Menurut saya, dari materi yang di paparkan dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa untuk menyelesaikan masalah OPT di masyarakat khususnya di NTT perlu di lakukan pendekatan secara logis , analisis masalah serta harus dapat merangkul berbagai kepentingan dan tujuan sehingga tahap-tahap ini dapat berjalan lancar sesuai yang di rencanakan.

    BalasHapus
  5. Dari meteri yang telah dipaparkan dapat diambil kesimpulan bahwa dalam merancang suatu program perlindungan tanaman perlu ada pengorganisasian karena dengan adanya program ini orang-orang yang terlibat dalam program kerangka ini akan selalu berpikir untuk terorganisasi sehingga dapat menghubungkan kegiatan yang dilakukan dan hasil dan juga dapat digunakan untuk menetapkan indikator kinerja sehingga tidak bertentangan dengan program yang sedang dilaksanakan.

    BalasHapus
  6. Menurut Pendapat saya, dalam pengelolaan perlindungan tanaman perlu dilakukan pendekatan kerangka kerja logis karena program kerangka kerja logis adalah salah satu program yang sangat penting untuk mengidentifikasi suatu masalah dan juga untuk menetukan masalah prioritas yang akan ditangani, sehinnga mampu menetapkan tujuan berdasarkan analisis poho tujuan.

    BalasHapus
  7. Berdasarkan materi yang telah saya baca, dapat saya simpulkan bahwa program perlindungan tanaman perlu dilakukan pendekatan kerangka kerja logis karena memungkinkan dilakukan analisis dan organisasi terhadap informasi yang tersedia secara sistematik sehingga dapat berfungsi sebagai alat bantu berpikir dalam menangani masalah untuk menetapkan tujuan dengan merujuk pada pohon tujuan melalui analisis pohon tujuan.

    BalasHapus
  8. Dalam merancang suatu program perlindungan tanaman,harus mempertimbangkan semua aspek di dalamnya,efek baik dan buruknya,serta semua pihak yang terkait di dalamnya.Oleh karena itu pendekatan kerangka kerja logis merupakan solusi yang paling tepat untuk menangani semua masalah tersebut.

    BalasHapus
  9. Dalam merancang program perlindungan tanaman dengan pendekatan kerangka kerja logis. Dan dilihat dari pemangku kepentingan yang terdiri atas pemerintah, dinas pertanian dan perkebunan, dinas peternakan, badan lingkungan hidup, aparat dari dinas-dinas terkait tersebut, perusahaan penyalur dan pengedar herbisida dan pengusahanya, pemerintahan desa/kelurahan dan aparatnya, kelompok tani dan kelompok peternak dan anggotanya, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat di wilayah pelaksanaan program. Apakah Perancangan program perlindungan tanaman dengan pendekatan kerangka kerja logis telah terapakan di Indonesia, terkhususnya di privinsi NTT? Bila belum diterapkan, apakah ada kendala-kendala yang membuat perancanagan tersebut belum diterapkan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Telah diterapkan secara penuh di kalangan LSM dan perguruan tinggi, belum sepenuhnya di kalangan pemerintahan. Kendala penerapannya di kalangan pemerintah daerah adalah sistem yang memberi peluang dilakukan negosiasi program antara ekskutif dan legislatif. Memang telah dilaksanakan musrembang, tetapi hasilnya tidak sepenuhnya digunakan karena dikalahkan oleh negosiasi yang dilakukan kalangan tertentu.

      Hapus
  10. Setelah saya membaca materi ini, yang ingin saya tahu dari pemangku kepentingan (dinas pertanian dan perkebunan, dinas peternakan, badan lingkungan hidup, aparat dari dinas-dinas terkait tersebut, perusahaan penyalur dan pengedar herbisida dan pengusahanya, pemerintahan desa/kelurahan dan aparatnya, kelompok tani dan kelompok peternak dan anggotanya, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat di suatu wilayah). Manakah pemangku kepentingan yang paling berperan aktif dalam merancang program perlindungan tanaman dengan pendekatan kerangka kerja logis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang Anda sebutkan bukan pemangku kepentingan, melainkan instansi pemerintah, lembaga masyarakat, dan anggota masyarakat. Untuk menentukan pemangku kepentingan, terlebih dahulu harus dimulai dari menetapkan suatu masalah untuk diatasi melalui pelaksanaan suatu program. Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap program tersebut. Mana yang kemudian berperan paling aktif bergantung pada peran mereka dalam taha-tahap daur program (baca kembali tulisan mengenai daur program perlindungan tanaman).

      Hapus
  11. alangkah baiknya jika kerangka kerja logis ini diterapkan di NTT, mengingat di daerah kita ini begitu banyak masalah perlindungan tanaman. mungkin dengan menerapkan kerangka kerja logis ini , masalah perlindungan tanaman lebih mudah diatasi. syang menjadi pertanyaan saya, mengapa di NTT prinsip kerangka kerja logis ini tidak diterapkan untuk melakukan perlindungan tanaman?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan baca terlebih dahulu jawaban saya terhadap pertanyaan Adriana Dimu. Persoalannya bukan pada diterapkan atau tidak diterapkan. Program pengendalian Chromolaena odorata yang dilaksanakan oleh PPLHSA Undana pada akhir tahun 1990-an dengan dukungan sebuah lembaga internasional dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis. Kalau pelaksanaan programn perlindungan tanaman oleh instansi pemerintah mungkin belum dengan menggunakan pendekatan tersebut karena alasan yang sudah saya sampaikan dalam menjawab pertanyaan Adriana.

      Hapus
  12. florentiano gabut2 Mei 2014 23.38

    setelah saya membaca materi diatas telah memahami program perlindungan tanaman dalam bentuk pendekataan kerja logis digunakan merancang program perlindungan tanaman,yang perlu kita ketahui sebelum suatu kegiatan atau program perlindungan tanaman,terlebih dahulu dilakukan dengan penilaian perlindungan tanaman yang merupakan proses untuk penetuan alasan yang tepat tentang tentang bagaimana upaya program perlindungan tanaman dilakukan,dengan bertujuan agar memahami keadaan teknik secara kontekstual,mengidentifikasikan dan memahami permasalahan perlindungan tanaman yang dihadapi dengan cara mengidentifikasi peluang,kapsitas dan sumber daya yang tersedia memahami bagaimana berbagai pihak dapat dilibatkan,serta memutuskan kelayakan dan menentukan prioritas,untuk bermaksud sebagian dari perencanaan kegiatan atau program perlindungan tanaman perlu dilakukan analisis permasalahan dan analisis pemangkauan kepentingan.sehingga setelah kegiatan /program dilaksanakan akan diterapkan pada tahap serah terima kepada masyarakat petani,bila program itu dari pemerintah,maka dilakukan evaluasi untuk menilai secara sistematik,dan obyek relevensi,kinerja dan tingkat keberhasilan dari suatu program kegiatan tertentu.
    Pertnyaan.
    1. mengapa kegiatan /program perlindungan tanaman di Indonesia harus dilaksanakan dengan berdasarkan pada sistem PHT,??
    2. apa yang membedakan kebijakan PHT dengan program/kegiatan yang lainya dalam suatu kebijakan perlindungan tanaman.???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kedua pertanyaan ini seharusnya diajukan kepada dosen pengampu yang mengajar pokok bahasan tersebut. Tetapi secara singkat, sistem PHT diterapkan pada awalnya untuk mengurangi penggunaan pestisida dan kemudian untuk mengendalikan OPT secara rasional dalam kalitan dengan ekonomi usahatani maupun dengan lingkungan hidup. Dalam PHT, pelaksanaan suatu tindakan perlindungan didasarkan atas mekanisme pengambilan keputusan tertentu.

      Hapus
  13. Berdasarkan uraian diatas, bahwa Perancangan dan perbaikan rancangan program dengan paradigma transformasional dilakukan dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis (logical framework approach atau logical framework analysis, disingkat LFA) lazimnya lebih banyak digunakan di kalangan LSM Internasional dan LSM lokal penerima hibah dari LSM internasional. Dari hal tersebut, apakah LFA ini terlalu sulit untuk diterapkan dan digunakan di LSM yang berasal dari Indonesia sendiri (LSM local bukan dari internasional) dan berdasarkan uraian diatas, pada alinea ketiga bahwa program ini yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan kemungkinan mendapat dukungan dari masyarakat lebih besar. Dari hal tersebut, mengapa tidak diterapkan secara intensif sehingga program perindungan tanaman dapat terarah dengan baik atau hanya sebuah tulisan ketika dibaca seolah-olah sudah diterapkan? Factor-faktor atau kendala apa saja yang menghambat dalam penerapan LFA ini?Selain itu, ketika LFA ini diterapkan dengan baik apakah program perlindungan tanaman di Indonesia (khususnya NTT) terarah dengan baik?

    BalasHapus
    Balasan
    1. LFA hanyalah sebuah pendekatan, keberhasilan suatu program perlindungan tanaman ditentukan pula oleh banyak faktor lain.

      Hapus
  14. berdasarkan apa yang sudah saya baca dari materi terebut untuk mengetasi suatu masalah terhadap perlindungan tanaman harus mengunakan kerangka kerja yang logis nah..kalo menurut saya sangat setuju karena dengan mengunakan kerangka kerja yang logis masyarakat bisa mengerti, apa yang harus pemerintah lakukan untuk mengatasi permasalahan di lapangan kalo menurut saya sebaiknya program yang mengunakan kerangka kerja yang logis sebaiknya di terapkan di NTT karena kebanyakan tanah yang rusak gara-gara tindakan yang sembrono,tidak mengikuti kerangka kerja yang logis
    setelah membaca pada alinea ketiga memberikan program ini sangat di butuhkan oleh masyarakat nah..menjadi pertanyaan saya mengapa program ini sangat di butuhkan oleh masyarakat mengapa program ini tidak di lakukan secara efektif ataukah hanya sekedar pemberian informasi terhadap masyarakat bahwa ada program yang bisa mengatasi permasalahan di lapangan kerja, mengapa program tersebut tiak di lakukan dengan sebaik-baiknya supaya progam perlindungan tanaman bisa bermanfaat guna membantu masyarakat

    BalasHapus
  15. Program pendekatan kerangka kerja logis perlu dijalankan karena menjadi prioritas serta dukungan bagi masyarakat. Yang menjadi pemangku kepentingan juga harus tetap memperhatikan program ini agar pelaksanaan program ini dapat berjalar dengan lancar. Dengan adanya mereka yang menjadi pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat aktif dalam program ini maka masalah utama yang timbul juga dapat diidentifikasi sehingga dapat dibuat pohon masalah, pohon tujuan serta perumusan hasilnya. Yang menjadi permasalahan, bagaimana caranya agar mereka yang menjadi pemangku kepentingan dapat berperan aktif, sehingga pelaksanaan program ini dapat berjalan dengan baik?

    BalasHapus
  16. Berdasarkan wacana yang telah saya baca diatas LFA baru di terapkan pada kalangan tertentu yang mempunyai kepentingan tertetntu.sebaiknya di lakukan juga pada wilyah NTT, karena wilayah ini masih belum tersentu dan kurang perhatian yang serius.
    pertanyaan saya pihak mana sajakah yang ada di wilayah NTT yang bertanggung jawab untuk menerapakan program ini, dan langkah apa saja yang perlu di lakukan dalam menindak lanjuti progaram ini ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penerapan LFA menjadi tanggung jawab semua pihak yang merencanakan program perlindungan tanaman (khususnya dinas pertanian). Tindak lanjut dari LFA adalah penyusunan LFM.

      Hapus
  17. Dari materi yang telah saya baca, perlu dilakukan program perlindungan tanaman dengan menggunakan kerangka kerja logis. karena dalam menanggulangi masalah perlindungan tanaman harus tepat pada sasarannya, dan tidak merugikan organisme lain.
    kerangka kerja logis juga harus diterapkan di NTT karena di wilayah NTT masih membutuhkan masukan dari wilayah yang telah menjalakan program perlindungan tanaman yang telah maju dan sudah diterapkan kerangka kerja logis.
    pertanyaan saya; bagaimana kerangka kerja logis bisa diterapkan secepat mungkin pada masyarakat tani di NTT??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Supaya dapat menerapkan LFA dengan cepat di NTT maka mahasiswa perlu mempelajarinya sehingga pada saat melaksanakan KKN atau setelah tamat dan bekerja di instansi pemerintah nanti, dapat mulai menerapkannya.

      Hapus
  18. Dari uraian materi yang telah saya baca, maka perlu dilakukan tindakan perlindungan tanaman dengan menggunakan kerangka kerja logis dalam meningkatkan pembangunan sektor pertanian demi kesejaatraan masyarakat tani khususnya di NTT. Dalam hal ini, kewenangan atau peran dari pemerintah yang menjadi pemangku kepentingan agar menerapkan kerangka kerja logis sesuai dengan tujuan dan harapan kepada masyarakat tani di NTT. Karena masyarakat tani di NTT pada umumya masih awam akan cara menyusun dan melaksanakan kerangka kerja logis. Selain peningkatan dan kemajuan dari alat teknologi yang digunakan untuk mendukung pembangunan pertanian.
    Pertanyaan saya:
    Bagaimana caranya agar masyarakat tani di NTT yang masih awam tersebut bisa dengan mudah menerapkan kerangka kerja logis dengan baik dan benarS????

    BalasHapus
  19. Untuk megalihkan suatu tahap perlindungan ke perlindungan yang lainnya pengelolaan perlindungan tanaman perlu dilakukan dengan paradigma transformasional. Dan salah satu tahap utama dalam perancangan dan perbaikan rancangan program dengan paradigma transformasional dilakukan dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis (logical framework approach atau logical framework analysis, disingkat LFA).
    Dimana proses kerangka kerja logis adalah identifikasi masalah untuk menentukan masalah prioritas yang akan ditangani. Identifikasi masalah dapat dilakukan bersamaan atau pada waktu yang berbeda dengan identifikasi pemangku kepentingan dengan menggunakan proses yang sama, yaitu FGD. Untuk menentukan masalah prioritas, peserta FGD diminta untuk menyampaikan masalah yang merupakan masalah paling mendesak bagi mereka masing-masing.
    Dengan mengunakan kerangka kerja logis kita dapat menganilis segala sesuatu dengan lebih teliti dan terarah, selain itu kita juga dapat menentukan Untuk menentukan penanganan masalah, perlu dilakukan analisis tujuan dengan cara membuat pernyataan positif terhadap masalah yang ditangani.
    Kerangka kerja logis memudahkan kita dalam megetahui akar suatu masalah, bagian-bagian yang terlibat dalam masalah yang ada, dan dipermudah dengan adanya pohon tujuan, pohon masalah. Dan dimana akan mempermudahkan kita dalam mengambil kesimpulan terhadap tahap terakhir dalam pendekatan kerangka kerja logis yaitu perumusan strategi yang hasilnya akan dirumuskan nanti dalam matriks kerangka kerja logis (LFM). Perumusan strategi dilakukan dengan menetapkan tujuan ke dalam peringkat tujuan tertentu (dari tujuan khusus yang mudah diukur ke tujuan lebih umum yang lebih sulit diukur).


    BalasHapus
  20. Dari uraian yang telah saya baca Perancangan dan perbaikan rancangan program dengan paradigm transformasional dilakukan dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis sebaiknya diterapkan di NTT karena banyak sekali permasalahan perlindungan tanaman yang terjadi di NTT yang belum teratasi.
    Yang menjadi pertanyaan saya bagaimana cara sehingga kerangka kerja logis bisa diterapkan di masyarakat NTT ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Caranya tidak terlalu sulit, mahasiswa perlu mempelajari terlebih dahulu supaya nanti, setelah tamat, dapat menerapkannya di masyarakat.

      Hapus
  21. berdasarkan bahan bacaan diatas saya setuju dengan penggunaan kerangka kerja logis unutk mengatasi permasalahan perlindungan tanaman yang ada terutama di daerah kita yaitu NTT. karena dengan meggunakan krangkakerja logis perancanagn program dimulai dari analisis pemangku kepentingan kemugkinan besar akan mendapatkan dukungan ynag besar dari masyarakat, dan mengapa setelah pemerintah tahu akan kerangka kerja logis tetapi tidak menerapkannya di NTT. padahal dengan menggunakan kerangka kerja logis ini masyarakat bisa mengerti apa yang harus mereka lakukan di;apagan untuk mengatasi permasalahan yang ada.

    BalasHapus
  22. CHARLES UMBU NGERA DAULA5 Mei 2014 18.32

    Ketika saya membaca meteri mengenai Merancang Program Perlindungan Tanaman Dengan Kerangka Kerja Logis ini,memang semuanya perlu di lakukan beberapa hal diantara: identifikasi masalah untuk menentukan masalah yang akan di tangani.
    Sehingga apa yang di pinta kepada pesrta FGD betul-betul menyampaikan Masalah masalah paling mendesak.dan dari hal hal tersebut tercapai.
    yang menjadi pertanyaan saya: Apakah hanya dengan program-program inilah yang di lakukan pemerintah untuk mensukseskan perlindungan tanaman ataukah masih banyak program kerja lainnya???
    pertanyaan yang ke dua: Bagaimana dengan Tindakan Pemerintah kepada Petani yang Masih awam dengan program Perlindungan Tanaman tersebut????

    BalasHapus
    Balasan
    1. LFA bukan merupakan program pemerintah dalam bidang perlintan, hanya merupakan pendekatan yang sebaiknya digunakan untuk merancang program perlintan. Baca lagi supaya bisa lebih memahami.

      Hapus
  23. Friska Neno5 Mei 2014 20.16

    ketika saya membaca uraian diatas dimana kegiatan Untuk program PHT terhadap Chromolaena odorata, pemangku kepentingan dapat terdiri atas dinas pertanian dan perkebunan, dinas peternakan, badan lingkungan hidup, aparat dari dinas-dinas terkait tersebut, perusahaan penyalur dan pengedar herbisida dan pengusahanya, pemerintahan desa/kelurahan dan aparatnya, kelompok tani dan kelompok peternak dan anggotanya, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat di wilayah pelaksanaan program. pertanyaan saya apakah instansi pemerintah tersebut sudah bekerja dengan baik, sesuai dengan pendekatan kerangka kerja logis yang ada?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk bisa mengetahui apakah pemerintah sudah atau belum menerapkan LFA, terlebih dahulu mahasiswa harus mempelajari LFA itu sebenarnya apa, mengapa harus digunakan LFA, dan bagaimana menerapkannya.

      Hapus
  24. Dari bacaan diatas yang saya baca tentang kerangka kerja logis, perancangan program di mulai dari analisis pemangku kepentingan tetapi yang kita ketahui dari bacaan diatas terkadang pemangku kepentingan dapat bersifat positif bahkan bersifat negatif dan dalam hal ini pemangku kepentingan dapat berupa perorangan atau kelompok.
    Yang saya mau tanyakan, apakah yang harus di lakukan agar dalam kerangka kerja logis khususnya dalam pemangku kepetingan lebih mendapat hasil yang negatif di bandingkan hasil yang positif?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk apa hasil negatif? Baca lagi supaya lebih mengerti.

      Hapus
    2. maaf pak,, maksudnya hasil yang positif daripada hasil yang negatif.

      Hapus
  25. Dari materi yang saya baca saya sangat memahami penjelasan yang mana menjelaskan tentang proses kerangaka kerja terdiri atas tahap-tahap analisis pemangku kepentingan (stakeholder analysis), analisis permasalahan (problem analysis), penetapan tujuan (objective setting), dan pemilihan strategi (strategy selection) yang hasilnya dituangkan ke dalam sebuah tabel besar yang lazim disebut matrix, yaitu matriks kerangka kerja logis (LFM).
    Dan Pendekatan kerangka kerja logis perlu digunakan dalam merancang program perlindungan tanaman dan memungkinkan dilakukan analisis dan organisasi terhadap informasi yang tersedia secara sistematik sehingga dapat berfungsi sebagai alat bantu berpikir. Bagaimana menurut bapak jika pada tahap analisis pemangku kepentingan hanya digunakan untuk kepentingan kalangan semata???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap pemangku kepentingan mempunyai kepentingan sendiri. Analisis pemangku kepentingan dilakukan bersama dengan melibatkan banyak pemangku kepentingan sehingga kepentingan setiap pihak dapat saling dinegosiasikan.

      Hapus
  26. saat saya membaca meteri mengenai Merancang Program Perlindungan Tanaman Dengan Kerangka Kerja Logis ini,memang semuanya perlu di lakukan beberapa hal diantara: identifikasi masalah untuk menentukan masalah yang akan di tangani.
    Sehingga apa yang di pinta kepada pesrta FGD betul-betul menyampaikan Masalah masalah paling mendesak.dan dari hal hal tersebut tercapai.
    yang menjadi pertanyaan saya: Apakah hanya dengan program-program inilah yang di lakukan pemerintah untuk mensukseskan perlindungan tanaman ataukah masih banyak program kerja lainnya???
    pertanyaan yang ke dua: Bagaimana dengan Tindakan Pemerintah kepada Petani yang Masih awam dengan program Perlindungan Tanaman tersebut???? dan jufa yang terakhir saya mau tanyakan ... program aplikasi EDward MINDMap ini cara downloadnya gimana ? trus tampilan untuk mau komentar mengenai program EDWard ini tidak ada pak ...? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertanyaan 1 sama dengan pertanyaan Charles U.N. Daula. Karena petani masih awam maka perlu dilibatkan dalam analisis pemangku kepentingan, analisis masalah, dan analisis tujuan supaya mereka memperoleh kesempatan belajar. Untuk mengunduh program aplikasi tersebut, baca tulisan selanjutnya dan komentari tulisan lain untuk memperoleh nilai soft-skill.

      Hapus
  27. Saat ini Program PHT belum begitu tepat sasaran bahkan tidak ada sama sekali memberikan perubahan positif bagi para petani,hal ini mungkin dikarenakan program-program PHT yang ada hanya di fokuskan umunya untuk lahan budidaya yang dalam jumlah besar atau luas sedangkan ini sangat bertantangan dengan masyarakat dalam hal ini petani karena lahan budidaya yang dimiliki oleh petani terkusus masyarakat NTT tidak begitu luas. Nah ,,,,,saya kira program kali ini cukup bagus tetapi coba program-program yang dirancang dan ingin diterapkan pada masyarakat di pertimbangkan melalui segi ekonomi yaitu ketika program ini direalisasikan pada luasan lahan tertentu ,apakahn menguntungkan atau merugikan.

    BalasHapus
  28. Aririn R D Merang5 Mei 2014 21.42

    Mengapa LSM menjadi alternatif yang lazim digunakan dalam Pendekatan kerangka kerja logis di kalangan Internasional ? apakah ada indikator lain yang mendukung LSM sebagai pendekatan kerangka kerja logis di kalangan Internasional, terlepas dari fungsi, proses dan peranan penting dari beberapa jenis LSM yang sudah bapak jelaskan ?
    Sejauh mana tingkat pencapaian LSM dalam pendekatan kerangka kerja logis di kalangan Internasional saat ini ? khususnya di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan dibalik-balik menjadi tidak karuan semua, baca dengan baik sebelum memberikan komentar. LSM bukan alternatif penerapan, melainkan pihak yang lazim menerapkan LFA. Untuk bisa tahu sejauh mana LSM menerapkan LFA, Anda perlu memahami dulu LFA itu apa. Kemudian search dengan mengetikkan 'LFA international NGO' pada kotak penelusuran.

      Hapus
  29. Berdasarkan materi yang disajikan memang benar perlu dilakukan adanya pendekatan kerja logis untuk menyelesaikan masalah –masalah yang terjadi dalam bidang pertanian dalam hal ini upaya perlindungan tanaman dari OPT sebagai upaya dalam mensejahterakan masyarakat tani,untuk itu dalam pembutan kerangka kerja logis kerja sama antara pemangku kepentingan seperti pemerintah dan masyarakat harus sangat besar dan terorganisir sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi.Untuk itu menurut saya kerangka kerja logis perlu di terapkan di daerah NTT agar menyelesaikan masalah-masalah yang ada dibidang pertanian karena selama ini belum terdengar adanya penerapannya sama sekali.

    BalasHapus
  30. Mlm pak,saya mau bertanya. Maksud dari importasi (pemasukan) agen hayati dari luar negeri itu apa?tks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda sudah jawab sendiri, importasi = pemasukkan. Pertanyaan di luar konteks isi tulisan ini.

      Hapus
    2. Maksudnya pak,soal importasi agen hayati dari luar negeri ini,apakah ada pengaruh terhadap masyarakat itu sendiri?

      Hapus
  31. Agustinus G. Lasi6 Mei 2014 01.12

    menurut saya pendekatan dengan kerangka kerja logis secara struktur sudah baik dalam perlindungan tanaman, dan perlu diterapkan di NTT, namun sebelumnya perlu diperbaiki mengenai pemangku kepentingan dalam hal ini seorang pemangku kepentingan harus saling berkordinasi dengan yang lain,dan perlu merekomendasi orang-orang yang siap bekerja dan berjuang bersama petani sehingga tidak ada kepentingan lain di atas kepentingan untuk mensejahterakan petani

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa yang menjadi dasar pemikiran anda sehingga anda berpikir bahwa di NTT perlu diterapkan pendekatan kerja logis?
      menurut saya, saat ini sistem pengendalian hama konvensional yang dilakukan petani NTT sudah mampu menekan populasi hama.
      coba anda jelaskan mengapa perlu adanya kerangka kerja logis di NTT.

      Hapus
    2. Apa indikator yang Debora gunakan untuk membuat pernyataan "sudah mampu menekan populasi hama"?

      Hapus
  32. jhoni lanpada6 Mei 2014 09.45

    menurut saya, pendekatan kerja logis merupakan suatu alternatif untuk melakukan perlindungan terhadap tanaman yang disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman dan itu yang kita upayakan untuk menerapkan kepada petani agar dapat meningkatkan hasil produksi. untuk itu perlu adanya kerja sama antara pemerintah dan petani dalam hal ini dinas pertanian memberikan sosialisasi kepada petani agar petani dapat menerima inovasi tersebut untuk peningkatan hasil produksi tanaman. yang menjadi pertanyaan saya adalah sejauh mana pendekatan kerja logis diterapkan ??

    BalasHapus
  33. Gerardus Keys6 Mei 2014 09.48

    Dari materi tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk mengendalikan Chromolaena odorata dan sufmuti secara hayati perlu memberikan penjelasan yang sangat mendetail kepada petani agar petani lebih megenal bagian morfologi dari Chromolaena odorata dan sufmuti yang lebih mudah dimusnakan.

    BalasHapus
  34. Dari materi yang saya baca, dapat saya pahami bahwa pendekatan transformasional dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis perlu dilakukan dalam semua sektor pembagunan, baik sektor pembangunan pertanian maupun non-pertanian dengan tujuan meningkatkan kondisi kehidupan manusia dan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis, maka dapat mengidentifikasi masalah dengan menggunakan teknik yang disebut analisis pohon masalah untuk menentukan masalah prioritas yang akan ditangani, dimana masalah yang menjadi penyebab banyak masalah lain merupakan masalah yang memerlukan prioritas penangan. Kemudian dari masalaha-masalah yang ada dibuat suatu analisis tujuan dan perumusan stateginya. Namun pastilah ada kendala yang dihadapi dalam menggunakan pendekatan ini, misalnya dalam menentukan masalah prioritas saat diskusi kelompok fokus. Tentunya masalah yang dihadapi oleh para pemangku kepentingan akan berbeda-beda bergantung pada kepentingan masing-masing. Maka timbul pertanyaan, bagaimana cara dan solusi dalam menentukan masalah prioritas kalau para pemangku kepentingan mempunyai kepentingan yang saling bertentangan ? Mohon penjelasannya.

    BalasHapus
  35. menurut saya,kerangka kerja logis sudah sangat baik oleh karena itu harus diterapkan diNTT.karena dalam kerangka kerja logis kita dapat mengerjakan segala sesuatu dengan baik.Selain itu, penggunaan pendekatan kerangka kerja logis memungkinkan dilakukan analisis dan organisasi terhadap informasi yang tersedia secara sistematik sehingga dapat berfungsi sebagai alat bantu berpikir.
    Namun dalam analisis pemangku kepentingan menjelaskan bahwa Pemangku kepentingan merupakan perorangan atau kelompok yang dapat mempengaruhi maupun terkena dampak dari pelaksanaan program, baik secara positif maupun negatif (mendukung, menerima dampak positif atau menentang, menerima dampak negatif). yang menjadi petanyaan saya:
    Apa yang peran pemerintah dalam mengatasi masalah ini khususnya dalam analisis pemangku kepentingan?

    BalasHapus
  36. Pendekatan kerangka kerja logis perlu digunakan dalam merancang program perlindungan karena itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan kata lain, program tersbut dilaksanakan karena itu yang menjadi prioritas masyarakat. Pertanyaan saya, bagaimana caranya pendekatan kerangka logis dapat di terapkan di NTT dan bagaimana pemangku kepentingan (stakeholders) dapat melaksanakan program dengan baik, lalu apakah ada daerah di Indonesia yang sudah mampu menerapkan program pendekatan kerangka logis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menerapkan LFA tidak sulit, mahasiswa perlu terlebih dahulu mempelajari apa itu LFA dan bagaimana menerapkannya, sebelum mengajak pemerintah dan masyarakat menggunakan LFA.

      Hapus
  37. heppy kabula heha6 Mei 2014 18.13

    Menurut saya pendekatan kerangka kerja logis perlu diterapkan di NTT, namun sebelumnya perlu di evaluasi kembali oleh pemerintah terhadap pemangku kepentingan yang masih bertentangan, dan pemerintah perlu memandu petani untuk mewujudkan kerangka kerja logis.Agar apa yang diprogramkan pemerintah bisa terlaksana dengan baik. Pertanyaan saya adalah apakah pemerintah NTT sudah diterapkan kerangkah kerja logis diNTT?

    BalasHapus
  38. Untuk mencapai tujuan dalam menjalan kegiatan perlindungan tanaman maka diperlukan perencanaan program yang baikunntuk mencapai keberhasilan dalam menjalankan program untuk mencapai tujuan perlindungan tanaman tersebut. Dalam hal ini langka awal yang dapat dilakukan sebagai langka awal ialah dengan membuat “kerangka kerja logis” yang disusun dan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan, dimana kerangka kerja logia (LFA) ini dapat digunakan sebagai alat atau pemandu untuk menjalankan program yang telah dibuat dalam LFA untuk mencapai tujuan perlindungan tanaman. LFA yag banyak digunakan oleh LSM internasional dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai tujuan dari kegiatan mereka.
    Pertanyaan saya; apakah kerangka kerja logis “LFA” yang bertaraf internasional ini dapat berhasil bila dijalankan di NTT, menurut bapa berapa besar tingkat keberhasilan yang dapat dicapai oleh petani NTT dengan mengguanakan LFA yang bertaraf internasional ini. ditamba lagi dengan SDM petani NTT yang belum terlalu banyak memahami tentang LFA ysng bertaraf internasional ini……..? bagaimana langka dan cara antisipasi yang dapat dilakukan bila hal diatas memang benar terjadi…………!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menerapkan LFA, masyarakat tidak perlu menggunakan komputer apalagi Internet. Yang perlu menggunakan komputer adalah pemandu FGD yang tentunya adalah petugas dari instansi pemerintah atau LSM. Siapa tahu nanti yang akan menjadi pemandu adalah Anda ... makanya saya sangat mendorong mahasiswa untuk belajar komputer dan Internet, supaya tidak memalukan almamater.

      Hapus
  39. Dari uraian materi yang telah saya baca, saya dapat memahami bahwa pendekatan kerangka kerja logis harus dibuat karena sangat bermanfaat bagi kepentingan pemerintah maupun masyarakat. Dengan menggunakan kerangka kerja logis, kita dapat membuat analisis pohon masalah yang memuat tentang penyebab masalah-masalah dan membuat analisis tujuan yang berisi penetapan strategi terhadap masalah tersebut. Dengan demikian, masalah yang terjadi akan diatasi sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu diharapakan pendekatan kerangka kerja logis dapat diterapkan dalam kehidupan sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup. Namun, kemungkinan untuk menggunakan kerangka kerja logis sangat kecil karena kondisi masyarakat di NTT masih sangat rendah dalam mengoperasikan computer dan internet. Yang menjadi pertanyaan saya adalah : Menurut Bapa apa solusi yang baik untuk mengatasi kondisi ini?

    BalasHapus
  40. Satu tahap penting dalam daur pengelolaan program dengan paradigma transformasional adalah tahap perancangan dan perbaikan rancangan. Perancangan dan perbaikan rancangan program dengan paradigma transformasional dilakukan dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis. Kerangka kerja Logis dimulai dari penentuan Pemangku kepentingan berdasarkan Analisis pemangku kepentingan yang dilakukan dengan menggunakan proses yang disebut diskusi kelompok. Langkah berikutnya dalam proses kerangka kerja logis adalah identifikasi masalah, menentukan penanganan masalah, penetapan tujuan yang merujuk pada pohon tujuan,
    Tahap terakhir dalam pendekatan kerangka kerja logis adalah perumusan strategi yang hasilnya akan dirumuskan nanti dalam matriks kerangka kerja logis (LFM). Kegiatan ini juga sangat memerlukan dukungan sarana dan prasarana. Apakah dengan pemangku kepentingan suatu program dan keputusannya dapat diyakini berhasil seutuhnya dan pasti harus diterapkan oleh petani ?

    BalasHapus
  41. Setelah saya membaca materi di atas dapat saya simpulkan bahwa:
    Tujuan dari pendekatan kerangka kerja logis yaitu untuk merancang program perlindungan tanaman.pendekatan kerangka kerja logis juga dilakukan untuk menganalisis suatu informasi yang tersedia secara sistematik sehingga dapat membantu pola pikir masyarakat. Dalam melakukan suatu pendekatan tentu saja harus melalui tahap –tahap salah satu diantaranya yaitu: kita mampu mengidentifikasikan suatu masalah untuk menentukan apakah masalahnya bias ditangani bersama atau tidak,dan penanganan masalah yang harus diperhatikan untuk menganalisis suatu tujuan yaitu dengan cara membuat pernyataan yang positif terhadap masalah yang ditangani misalnya mengatasi musim kemarau yang sangat panjang,memperbaiki kesuburan tanah,meningkatkan pertumbuhan rumput yang semakin berkurang dan lain –lain.

    BalasHapus
  42. Berdasarkan materi di atas dapat dikatakan bahwa Pendekatan kerangka kerja logis perlu digunakan dalam merancang program perlindungan tanaman Karena pendekatan kerangka kerja logis sudah tersusun dan terencana dengan baik yang dimulai dengan analisis pemangku kepentingan, identifikasi masalah, penetapan tujuan dengan merujuk pada pohon tujuan yang telah dihasilkan melalui analisis pohon tujuan, dan perumusan strategi yang hasilnya akan dirumuskan nanti dalam matriks kerangka kerja logis (LFM), maka dari hal-hal ini perlindungan tanaman akan lebih tersusun dan terencana dengan baik untuk itu program dari pendekatan kerangka kerja logis ini dibutuhkan oleh masyarakat dalam melakukan kegiatan perlindungan tanaman. Dengan kata lain, program tersebut dilaksanakan karena itu yang menjadi prioritas masyarakat dan kemungkinan program akan memperoleh dukungan masyarakat menjadi lebih besar. Selain itu, penggunaan pendekatan kerangka kerja logis memungkinkan dilakukan analisis dan organisasi terhadap informasi yang tersedia secara sistematik sehingga dapat berfungsi sebagai alat bantu berpikir.

    BalasHapus
  43. Agustinus samon beda6 Mei 2014 20.38

    Dari materi yang tercantum sangat mempermudah dalam kegiatan perlindungan tanaman dimana ada jalan keluar dalam menyelesaikan masalah perlindungan tanaman yaitu dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis , dan pendekatan kerangka kerja logis harus diterapakan dimasyarakat karana banyak petani yang masih pusing dalam hal perlindungan tanaman. Tapi apakah penerapan kerangka kerja logis ini diterima dikalangan petani? saya rasa belum tentu.
    Yang menjadi pertanyaan :bagaimana cara pendekatan kemasyarakat supaya bisa meyakikan mereka untuk menerima kerangka kerja logis ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masyarakat tidak sulit untuk diajak menerapkan LFA karena LFA untuk kepentingan mereka. Yang sulit diajak adalah pihak yang merancang program karena orang yang mengerti cara menerapkan LFA belum banyak. Karena itu mahasiswa perlu belajar LFA.

      Hapus
  44. yohanes emanuel bahi6 Mei 2014 21.44

    Untuk mencapai sesuatu yang diharapkan dalam kegiatan perlindungan tanaman dalam suatu usaha maka kita perluh menggunakan pendekatan kerangka kerja logis sebagai salah satu alternatif. Karena dengan adanya mereka yang menjadi pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat aktif dalam program kerangka kerja logis maka masalah utama yang timbul juga dapat diidentifikasi sehingga kita bisa membuat pohon masalah, pohon tujuan serta perumusan hasilnya. tetapi menjadi pertanyaan saya apakah setiap daerah harus diterapkan kerangka kerja logis NTT?

    BalasHapus
  45. Berdasarkan materi diatas,,,,Pendekatan kerangka kerja logis memang perlu digunakan dalam merancang program perlindungan tanaman Karena dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis perancangan program dimulai dari analisis pemangku kepentingan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tapi itu semua tidak sesederhana yang diuraikan dalam tulisan diatas, faktanya pemangku kepentingan mempunyai kepentingan yang saling bertentangan serta permasalahan yang teridentifikasi bisa sangat banyak sehingga tidak mudah menentukan hubungan sebab-akibat satu dengan yang lain.Dalam hal ini apakah pendekatan kerangka kerja logis (logical framework approach atau logical framework analysis, disingkat LFA) lazimnya lebih banyak digunakan di kalangan LSM Internasional dapat di terapkan oleh LSM yang berasal dari Indonesia sendiri (LSM local)?? Dan apa yang menyebabkan LFA tidak dapat berjalan dengan baik??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah diterapkan oleh LSM Indonesia, terutama yang mendapat dukungan dana dari LSM internasional.

      Hapus
  46. dari uraian materi yang telah dipaparkan di atas, yang saya pahami bahwa sebenarnya PHT merupakan bagian dari pendekatan kerangka kerja logis, dan lebih tepatnya merupakan hasil dari pendekatan kerangka kerja logis yang telah melalui berbagai hasil analisis pemangku kepentingan sehingga PHT yang dilahirkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak dalam hal ini adalah pemangku kepentingan serta tidak merugikan pihak-pihak yang berkepentingan.

    BalasHapus
  47. Menurut saya, dalam merancang program perlindungan tanaman perlu dilakukan sebab dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis perancangan program dimulai dari analisis pemangku kepentingan yang dibutuhkan oleh masyarakat.

    dalam materi diatas tadi, sempat dibahas kalau masalah yang menjadi penyebab banyak masalah lain merupakan masalah yang memerlukan prioritas penanganan.
    Bapak bisa menjelaskan lebih khusus maksud dari prioritas penanganan. soalnya saya belum mengerti..



    BalasHapus
  48. “Pendekatan kerangka kerja logis perlu digunakan dalam merancang program perlindungan tanaman untuk menjawab pertanyaan, "Mengapa program perlindungan tanaman tertentu perlu dilaksanakan, bukan program perlindungan tanaman lainnya?" Karena dengan menggunakan pendekatan kerangka kerja logis perancangan program dimulai dari analisis pemangku kepentingan maka pendekatan kerja logis dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan, "Karena program itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat". Dengan kata lain, program tersbut dilaksanakan karena itu yang menjadi prioritas masyarakat.” Dari kutipan teks diatas, dapat kita lihat bahwa dalam menjalakan suatu program kerangka kerja logis sangatlah membutuhkan kerjasama yang baik antara masyarat dan pemerintah sehingga program tersebut dapat berjalan dengan baik. Untuk dapat mewujudkan kerjasama tersebut dibutuhkan komunikasi yang baik. Tetapi pada kenyataannya tidak adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Yang menjadi pertanyaanya adalah penting yang menyebabkan tidak terjadinya kerjasama dan komunikasi yang baik antar masyarakat dan pemerintah ??.

    BalasHapus
  49. Dewanti Rambu Luba8 Mei 2014 22.42

    Untuk program THP terhadap Chromolaena odorata, pemangku kepentingan (stakeholders) baik dari dinas pertanian dan perkebunan, dinas peternakan, badan lingkungan hidup, aparat dari dinas-dinas terkait tersebut, perusahaan penyalur dan pengedar herbisida dan pengusahanya, pemerintahan desa/kelurahan dan aparatnya, kelompok tani dan kelompok peternak dan anggotanya, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat di wilayah pelaksanaan program. Pemangku kepentingan terhadap Chromolaena odorata haruslah orang yang betul-betul mempunyai keahlian pengendalian hayati.

    BalasHapus
  50. “Pada kegiatan belajar ini akan digunakan terminologi keluaran, hasil, dan sasaran dengan definisi sebagai berikut:
    • Keluaran: produk langsung dan nyata yang dicapai secara langsung melalui pelaksanaan satu kegiatan tertentu dari suatu proyek;
    • Hasil: produk lanjutan yang dicapai secara langsung maupun tidak langsung, sebagai konsekuensi dari tercapainya sejumlah keluaran sebagai hasil dari pelaksanaan beberapa kegiatan dalam satu proyek;
    • Sasaran: produk yang dicapai secara langsung maupun tidak langsung dari tercapainya hasil dari sejumlah proyek sehingga berkontribusi terhadap tujuan sektoral secara jangka panjang. Sasaran bersifat kontributif, artinya ikut menyumbang, sehingga sasaran yang berhasil dicapai bukan seluruhnya merupakan produk satu program.
    Pada bagian tersebut terdapat contoh yaitu : untuk proyek dengan tujuan untuk mengendalikan Chromolaena odorata secara hayati perlu ditentukan sejumlah kegiatan, misalnya penyiapan sarana dan prasarana pendukung pengendalian hayati, importasi (pemasukan) agen hayati dari luar negeri, pembiakan masal (mass-rearing agen hayati), dan pelepasan agen hayati bersama dengan para pemangku kepentingan. Untuk proyek dengan tujuan untuk mengendalikan Chromolaena odorata secara budidaya ditetapkan kegiatan-kegiatan, misalnya, penyiapan sarana dan prsarana pendukung pengendalian secara budidaya, pemilihan jenis tanaman, dan penyiapan lahan dan pemeliharaan tanaman. Selanjutnya ditetapkan keluaran untuk setiap kegiatan, misalnya untuk kegiatan penyiapan sarana dan prasarana pendukung pengendalian hayati ditetapkan tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan, untuk kegiatan importasi (pemasukan) agen hayati dari luar negeri ditentukan keluaran dimasukannya jenis agen hayati tertentu, untuk kegiatan pembiakan masal (mass-rearing agen hayati) ditentukan keluaran tersedianya agen hayati dalam jumlah tertantu, dan untuk kegiatan pelepasan agen hayati bersama dengan para pemangku kepentingan ditetapkan keluaran dilepaskannya agen hayati dengan jumlah teretntu bersama dengan jumlah tertentu pemangku kepentingan. Kemudian, tujuan kedua proyek digabungkan menjadi satu sasaran, misalnya untuk meningkatkan produksi jagung dan pendapatan petani peladang dan peternak.”

    Jika kita melihat dari penjelsan diatas pada teks. Maka akan muncul pertanyan-pertanyan sebagai berikut :
    1. Aapakah kegiatan ini telah berhasil ??
    2. apakah kegiatan ini cocok digunakan di NTT ??
    3. Apakah pemerintah terlibat secara aktif dalam kegiatan ini ??
    4. Dalam perjalannya, apakah kegiatan ini pernah mendapat hambatan ??
    5. Jika pernah, apa saja hambatan tersebut ??

    BalasHapus
  51. Menurut pendapat saya menyangkut identifikasi masalah dengan pembuatan bagan alir dari materi pendekatan kerangka kerja logis adalah denagan adanya satu masalah yang menjadi penyebab banyak masalah lain merupakan masalah yang memerlukan prioritas untuk ditangani, sehingga dapat dibuat bagan alir yang menghubungkan satu masalah dengan masalah lainnya dalam hubungan sebab-akibat tersebut disebut pohon masalah (problem tree)

    BalasHapus
  52. Berdasarkan materi diatas perlu diketahui bahwa kerangka kerja logis,perlu diterapkan secepat mungkin di NTT. karena masyarakat di NTT masih awam sehingga dapat mudah membantu dalam pengaplikasikan dengan adanya teknologi baru yang digunakan untuk pembangunan pertanian.

    BalasHapus
  53. Salam kenal.
    Mantaps Broo Info nya.
    Gue demen bgt.
    Sukses ya Broo . . . and GBU yaa.

    BalasHapus

Untuk menyampaikan komentar, silahkan ketik dalam kotak di bawah ini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...